Seorang entrepreneur tersohor pada masanya, Bob Sadino, pernah berkata, kamu kerja apa dikerjain? Untuk menyinggung soal membudayanya gaya bekerja berlebihan di masyarakat. Salah satunya adalah hustle culture. Hustle culture merupakan gaya hidup untuk terus bekerja keras dan meluangkan sedikit waktu untuk istirahat. Sebutan lainnya adalah gila kerja.

Sebenarnya, kerja keras adalah hal yang bagus, tapi sayangnya pekerja zaman sekarang terlanjur meromantisasi perilaku kerja keras ini sebagai perilaku dasar “orang sukses” atau “calon orang sukses”. Hustle culture merupakan rutinitas beracun, sebab lebih banyak mempunyai dampak merugikan daripada membuat pekerja menjadi sukses. Yang menjadi titik toxic dari budaya ini sesungguhnya terdapat pada pembiasaan dan pengistimewaan bahwa bekerja lebih waktu seharusnya adalah jalan menuju kesuksesan.

Normalisasi budaya gila kerja ini muncul sejak 1980-an, yaitu saat generasi para orang tua didorong untuk bekerja keras agar dapat hidup nyaman dengan pekerjaan mapan dan properti di sana-sini. Budaya bekerja keras ini kemudian diperluas dengan maraknya quotes yang berbunyi, “sukses butuh kerja keras”atau “no pain no gain” di media sosial. Belum lagi tweet public figure yang diangap sebagai role model kesuksesan seperti Elon Musk, yang pada tahun 2018 berkata bahwa ‘untuk mengubah dunia’ pekerja harus bekerja selama 80 jam seminggu, alias 16 jam sehari.

Bentuk hustle culture yang semakin marak akibat teknologi dan media mendorong beberapa inovasi dalam dunia pekerjaan, salah satunya dengan mengubah cara bekerja menjadi semakin fleksibel. Hal ini dilihat dari maraknya perusahaan yang menetapkan jam kerja fleksibel dengan penghasilan yang kompetitif, sebab gaji ditentukan berdasarkan target yang dicapai. Salah satu pekerjaan yang menetapkan sistem kerja seperti ini adalah para freelancer yang bekerja lebih dari jam kerja yang ditetapkan oleh UU Ketenagakerjaan, yakni 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Profesi freelancer dalam bidang video editor, web designer, dan graphic designer adalah segelintir pekerjaan yang menganut budaya hustle culture karena pundi-pundi rupiah didapatkan tergantung dari berapa banyak pekerjaan yang telah diselesaikan.

Secara sederhana, kita dapat melihat logika sederhana pada budaya hustle ini, yaitu adanya anggapan bahwa peningkatan jam kerja akan dinilai dengan pencapaian lebih tinggi, sehingga kesuksesan akan segera dicapai. Kesuksesan itu kemudian sulit untuk diabaikan akibat masifnya penyebaran informasi melalui teknologi. Alhasil, setiap orang pun merasa tertuntut untuk mencapai kesuksesan itu melalui cara pertama.

Oleh karena itu, banyak pekerja lepas yang tak jarang menghabiskan waktunya seharian penuh untuk mengambil pekerjaan demi mendapat lebih banyak uang. Akibatnya, kurang tidur, telat makan, dan konsumsi kafein berlebih menjadi rutinitas sehari-hari yang secara perlahan mampu merusak kesehatan.

Selain dampak kesehatan yang jelas-jelas dapat dialami oleh para hustler, penting pula menilik kesehatan mental pekerja. Tak sedikit karyawan yang mengalami depresi, anxiety, dan tekanan emosional karena beban jam kerja yang berlebih. Bahkan, ada pula yang sampai mandat kreativitas atau kehilangan motivasi bekerja.

American Psychological Association melaporkan bahwa milenial, sebagai generasi yang paling kuat terpapar hustle culture adalah generasi yang paling banyak mengalami stres karena anxiety dan kurang tidur. Forbes juga mencatat bahwa di Amerika, terdapat 55% pekerja di yang mengalami stress. Di Inggris, 14,7% pekerja mengalami gangguan mental akibat pekerjaan. Bagaimana dengan pekerja di Indonesia? 1 dari 3 pekerja di Indonesia mengalami gangguan mental akibat jam kerja berlebih.

Meski begitu, saat ini culture hustle semakin marak berkembang. Riset yang dilakukan oleh Autonomy menunjukkan bahwa 4 hari kerja malah mampu meningkatkan produktivitas dan memperbaiki kualitas hidup para pekerjanya. Sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan apa yang diyakini banyak orang, khususnya para hustler.

Ada beberapa hal yang belakangan mesti disadari oleh para pekerja, yakni pekerja harus mengenali batasan masing-masing. Hidup bukanlah ajang perlombaan, kesuksesan tak melulu menjadi tolak ukur, dan pencapaian orang lain bukanlah kegagalan bagi kita. Bekerja berlebihan atau melakukan gila kerja tidak akan membuat seseorang dianggap keren atau sukses. Budaya ini justru harus dihentikan, yaitu dengan cara berhenti mengagungkan overwork itu baik.


Editor: Patricius Sulistya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *